4 Fobia Penulis Pemula dan Kiat Mengatasinya
4 phobia bagi penulis pemula seperti ilustrasi oleh: kecerdasan buatan. |
Ada 4 fobia yang (biasanya) dialami oleh penulis pemula.
Apakah Anda pernah mengalaminya? Atau belum (mau) atau takut memulai karena Anda termasuk fobia menulis?
Usai membaca narasi ini. Cobalah! Atas rasa takutmu. Mulailah menulis. Sekarang juga. Sebab selain sehat rohani, menulis era digital dapat mendatangkan cuan.
Menulis adalah keterampilan, bukan bakat
Keterampilan menulis adalah kemampuan yang sangat diperlukan oleh semua orang, terutama di era digital seperti sekarang. Anda puntanpa terkecuali!
Saat ini. Tidak ada yang tidak bisa. Yang ada adalah "tidak mau". Kehadiran Artificial Intelligence, dengan ChatGVT, dapat membantu seseorang terampil menulis. Dengan catatan: AI tidak menggantikan manusia, namun chat pinter itu adalah mitra kerja. Bahkat alat bagi penulis. AI bukan kader, tapi "petugas partai". Yang bekerja sesuai perinah.
Terutama bagi mereka yang menjabat sebagai pemimpin di perusahaan, instansi, atau lembaga, kemampuan menulis menjadi hal yang tak bisa dihindari.
Setiap hari, mereka harus mampu menyusun tulisan-tulisan untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesan atau ide-ide. Pentingnya tulisan tersebut adalah agar pesan yang ingin disampaikan menjadi jelas dan memiliki clarity. Tanpa kemampuan menulis yang baik, pesan tersebut mungkin tidak akan pernah sampai kepada orang yang dituju.
Namun, pentingnya keterampilan menulis tidak hanya berlaku bagi para pemimpin. Bagi banyak orang. Menulis tetap merupakan keterampilan yang sangat penting. Terutama dalam era saat ini di mana media komunikasi menyediakan berbagai kemudahan. Mulai dari pesan singkat hingga tulisan panjang.
AI adalah "petugas partai", bukan kader. Alat yang bekerja sesuai dengan perintah tuan/puannya.
Semua jenis tulisan memerlukan kemampuan dan kejelasan dalam merangkai kata-kata.
Namun, dalam kenyataannya, banyak orang menghadapi berbagai hambatan dalam menulis. Salah satu hambatan yang umum adalah ketakutan untuk memulai menulis.
Seperti yang diungkapkan oleh Nayyirah Waheed, seorang penulis terkenal. "Bahkan rasa takut yang Anda alami, tulislah itu."
Kita dapat mengatasi ketakutan Anda dengan menuliskan apa yang Anda alami.
Setiap orang menghadapi berbagai hambatan yang berbeda dalam menulis. Namun, biasanya penulis menghadapi empat hambatan umum berikut ini:
- Demophobia: Ini adalah ketakutan akan khalayak atau audiens yang akan membaca tulisan Anda. Kadang-kadang, ini bahkan dapat menghantui sebelum Anda mulai menulis. Namun, ingatlah bahwa Anda lebih tahu tentang topik yang Anda tulis daripada audiens Anda. Ini adalah peluang untuk berbagi pengetahuan Anda.
- Laliophobia: Meskipun istilah ini lebih merujuk pada ketakutan berbicara di depan publik, namun ketakutan yang sama dapat berlaku dalam menulis. Ini adalah ketakutan akan kesulitan dalam mengungkapkan pikiran Anda dalam bentuk tulisan. Yang perlu Anda lakukan adalah terus berlatih untuk memperoleh kebiasaan yang baik dalam menulis.
- Katagelophobia: Ini adalah ketakutan akan dicemooh atau diejek. Sebelum mempublikasikan tulisan Anda, selalu periksa potensi kritik atau ejekan, tetapi ingatlah bahwa menghadapi kritik adalah hal yang wajar dan dapat membantu Anda tumbuh sebagai penulis.
- Chrematophobia: Ini adalah ketakutan tidak mendapatkan imbalan finansial dari menulis. Penting untuk menemukan keseimbangan antara mengejar uang dan menulis dengan tujuan yang lebih besar. Menulis bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang berbagi ide dan memengaruhi orang lain.
Jadi, jangan biarkan hambatan-hambatan ini menghentikan Anda. Keterampilan menulis adalah kemampuan yang dapat diasah dan ditingkatkan melalui latihan yang konsisten.
Semakin menulis, kita semakin baik dalam mengungkapkan ide-ide melalui kata-kata. Kata-kata, seperti AI, adalah "petugas partai" yang wajib mengerjakan perintah penulis.
Mengkombinasikan Wordsmart dan AI
Wordsmart adalah salah satu dari 8 multiple intelligences yang diidentifikasi oleh Howard Gardner. Ini mengacu pada kemampuan seseorang untuk memahami dan menggunakan kata-kata dengan baik dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis.AI adalah teknologi yang mampu memproses data besar secara cepat, belajar dari pola, dan memberikan solusi berdasarkan pemahaman dari data tersebut.
Bagaimana kita dapat menggabungkan keduanya?
AI dapat digunakan untuk memahami dan meningkatkan kemampuan Wordsmart seorang penulis.
Dengan bantuan AI, penulis dapat menyelesaikan tugas penulisan dengan lebih cepat. AI dapat menyediakan sumber daya yang relevan dan menghemat waktu dalam penelitian.
AI adalah alat, tidak menggantikan (peran) manusia
Dengan mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dengan pemahaman Wordsmart yang diperkuat oleh teori Multiple Intelligences, individu memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan menulis mereka secara lebih komprehensif.
AI dapat memberikan analisis mendalam terhadap struktur dan gaya tulisan, memberikan saran perbaikan, dan membantu dalam pengembangan ide-ide kreatif. Sementara itu, pendekatan Multiple Intelligences, yang menekankan pada berbagai jenis kecerdasan seperti verbal-linguistik, logis-matematis, dan interpersonal, memungkinkan setiap individu untuk mengasah keterampilan menulisnya dengan cara yang sesuai dengan kekuatan dan gaya belajar mereka sendiri.
Penerapan AI dalam konteks ini tidak hanya terbatas pada pengecekan tata bahasa atau ejaan, tetapi juga dapat menganalisis nuansa konteks dan tujuan tulisan. Hal ini memungkinkan penulis untuk mengoptimalkan kemampuan mereka dalam menyampaikan pesan dengan lebih efektif, sesuai dengan audiens yang dituju. Sebagai contoh, AI dapat memberikan saran untuk menyusun kalimat yang lebih persuasif atau lebih informatif, tergantung pada tujuan komunikasi. Ketika disinergikan dengan teori Multiple Intelligences, pendekatan ini semakin memperkaya pengalaman belajar dan menulis, karena memperhitungkan kecerdasan emosional dan kreativitas, yang membantu penulis untuk mengekspresikan ide dengan lebih jelas dan menarik.
Integrasi AI dengan pendekatan ini juga dapat meningkatkan produktivitas penulisan. AI dapat mengotomatisasi tugas-tugas tertentu, seperti penelitian dasar, pemformatan, atau bahkan brainstorming ide, sehingga penulis dapat fokus pada pengembangan konten yang lebih mendalam dan orisinal. Dalam jangka panjang, hal ini akan memungkinkan penulis untuk menghasilkan lebih banyak karya dengan kualitas yang lebih tinggi dalam waktu yang lebih singkat.
Dengan memanfaatkan AI dan Multiple Intelligences, proses penulisan menjadi lebih terstruktur, efisien, dan memungkinkan penulis untuk terus berkembang dalam kualitas dan kuantitas karya mereka.
-- Masri Sareb Putra